TABLOIDBINTANG.COM - Sampah merupakan masalah besar di lingkungan sekitar kita. Namun di tangan Wilda Yanti (39), sampah-sampah organik dan anorganik menjadi bernilai. Kerjanya yang tak kenal lelah berdampak positif bagi banyak warga.
Wilda pindah ke Jakarta dari Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, Agustus 1998 untuk kuliah teknologi informatika di Universitas Bina Nusantara (Binus). Untuk meringankan biaya kuliah, pertengahan September 1998 ia mulai bekerja di PT MSA Manufacturing yang berlokasi di Cibitung.
Bolak-balik dengan rute Jakarta-Bekasi-Cibitung, ia terkejut mendapati banyak warga yang tidak memiliki kepedulian terhadap sampah.
“Di sana (Sijunjung) bersih, di sini lihat sampah menumpuk,” tukas Wilda. Seketika terngiang kata-kata bosnya, yang memperkirakan 40 tahun lagi kita akan hidup di atas sampah.
“Di kos tempat saya tinggal ada gerakan peduli sampah, tapi tidak berkelanjutan. Hari ini bersih, besoknya kotor lagi. Saya ingin mengajak masyarakat untuk mengolah sampah,” cerita Wilda saat ditemui di kawasan Bekasi, pekan lalu.
Padahal wanita kelahiran 26 Juni 1979 ini sejak kecil jijik dengan sampah. Namun ia mengesampingkan rasa itu agar tempat tinggalnya sebersih kampung halamannya. Awalnya ia melakukannya dengan pendekatan sosial. Sayang relawan yang digaetnya hanya mau bergerak kalau ada dana saja.
Ia kemudian beralih ke pendekatan ekonomis. “Saya mencari cara agar masyarakat mau mengelola sampah dengan senang hati, tanpa terpaksa, dan mendapat manfaat. Kalau menghasilkan, pasti masyarakat mau,” tutur Wilda.
Sebagai tahap awal, ia memisahkan jenis sampah, organik dan anorganik. Hasilnya ia jual kepada pengepul. Ia tahu soal pengepul dari pemulung yang lewat di depan rumah.
“Setelah saya jual (sampah anorganik), uang yang saya dapatkan bisa untuk bayar tagihan listrik, air, tagihan telepon,” sambung dia.
Lalu sisa sampah organik seperti sisa makanan ia olah menjadi pupuk kompos. “Saya olah di rumah menggunakan formula (bahan kimia) hasil eksperimen sendiri,” cerita Wilda.
Ia simpan sampah-sampah organik di dalam dua gentong, yang ia letakkan di depan rumah.
“Ternyata tetangga melihat tumpukan sampah di depan rumah sedikit dan tidak berbau, sementara di rumah tetangga penuh (dan berbau). Dari situlah saya punya keberanian untuk menggerakkan masyarakat. Misi saya sederhana, jika semua ibu rumah tangga melakukan hal yang sama dengan yang saya lakukan, berapa besar terjadi pengurangan sampah? Saya sendiri membuang tidak lebih dari 10 persen sampah dari dalam rumah,” tambahnya.
(ind / gur)
Baca Lagi dah di situ https://www.tabloidbintang.com/berita/sosok/read/112622/wilda-yanti-mengelola-sampah-agar-bernilaiBagikan Berita Ini
0 Response to "Wilda Yanti Mengelola Sampah agar Bernilai"
Post a Comment